Sabtu, 11 Januari 2014

DINSOSNAKER : 'Pontianak Tak Punya Anak Jalanan'. BENARKAH??!!

Silaturahim Part 1

Kantor DISOSNAKER Pontianak

Silaturahmi merupakan anjuran mulia yang di sampaikan oleh seorang yang mulia Nabi Allah Muhammad SAW. Demikianlah, sehingga sangat baik jika bisa di amalkan. Adapun manfaatnya adalah memperpanjang usia, memurahkan rejeki, dan masih banyak lagi manfaat yang lainnya.

Pagi kamis (9/1/2014) Departemen SOSMAS KAMDA Pontianak bersilaturahim ke Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Pontianak Dan Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil. Sekitar pukul 09.00 wib, ber enam, KAMI, Bayu, Ahmad, Agung, Eka, Estika dan Dewi tiba di DINSOSNAKER (Dinas Sosial Dan Tenaga Kerja), Disambut langsung oleh Ibu Fursani, M.Si selaku kepala bidang Sosial, di ruang kerjanya. Kemudian di ikuti oleh 2orang kepala seksi Di Bawah bidang social yang bertugas sebagai pengontrolan/evakuasi dan pembinaan. Walaupun tidak di sertai oleh kep. Kantor yang belum lama sebelum KAMMI tiba, pergi menghadiri suatu urusan, namun proses komunikasi dan sosialisasi berjalan dengan hikmat.

Secara umum Bidang Sosial Pemkot memiliki banyak PR, baik hal yang berkenaan dengan Ketertibn Masyarakat (penertipan gelandangan, Pengemis dll) Pembinaan Masyarakat, sampai kepada program Kesejahteraan masyarakat terutama program ekonomi yang di prioritaskan untuk maasyarakat miskin yang sifatnya turunan dari kementrian social Pusat maupun program yang di canangkan oleh Pemkot.

“untuk kota Pontianak kita tidak memiliki anak jalanan” ujar bu Fursani. lebih lanjut di sampaikan oleh Bpk Lenon “ yang di katakan anak jalanan adalah mereka yang hidup di jalan lebih dari 4 jam. Tidak ada rumah, tidak ada tempat tinggal dan tidak bersekolah, untuk Kota Pontianak tidak ada yang seperti ini”. Hemat kami, inilah salah satu hal yang mendasari Pontianak sebagai kota yang mendapatkan penghargaan sebagai kota layak anak, walaupun secara realitas dari segi sikap dan pola hidup anak dan remaja kota tidak luput dari penyimpangan dan kenakalan yang sering di beritakan oleh media.

Untuk permaslahan social yang berkenaan dengan perdagangan manusia, yang dalam hal ini rentan di alami oleh wanita (sebagai korbannya), ada juga di tanyakan Eka. mengingat KALBAR berbatasan langsung dengan Negara tetangga Malaysia “Untuk kejahatan Perdagangan Perempuan bagaimana bu? Sering di beritakan di Koran-koran mengenai korban ketidak adilan maupun asusila ketika menjadi TKI!”.
“Untuk kota Pontianak sendiri, sebenarnya sedikit sekali masyarakat yang menjadi korban, malahan hampir tidak ada untuk saat ini. dulu ada, ketika administrasi kependudukan mudah di palsukan atau di manipulasi. namun sekarang biasanya yang kita tangani adalah mereka yang dari daerah luar datang ke Pontianak kemudian menggunakan jasa dari pihak penyaluran tenaga kerja untuk di pekerjakan ke Malaysia. Mereka yang Ketika bekerja di sana mendapatkan masalah kemudian pulang ke Indonesia, dan terlunta di Pontianak. Jadi Pontianak hanya tempat transitnya, atau tempat mereka tinggal untuk sementara waktu karna tidak memiliki tujuan dan mengharapkan bantuan dari pemerintah. Terkait ketenaga kerjaan yang bermasalah secara social yaitu Adanya pihak-pihak tertentu menggunakan modus lain untuk mengelabui aparat agar bisa di kirim ke Malaysia atau sebaliknya dari Malaysia-Pontianak di kirim ke daerah lain seperti  Batam, itu ada. namun itu di luar wewenang kita” uajar bu Fursani.

Agung perwakilan SOSMAS STKIP : “Untuk masalah pembinaan, terutama bagi  Gepeng/ Gelandangan-Pengemis, apa saja yang sudah di lakukan, apakah mereka yang terjaring raziah, hanya di ingatkan, di catat secara administrasi, namun tidak mendapatkan pembinaan secara berkala”.
“em, sebenarnya kami sudah melakukan upaya pembinaan, berupa pelatihan kemandirian dll, tercatat pengurangan jumlah pengemis dari 90an menjadi 20 pengemis merupakan wujud dari kerja kami dalam upaya pengentasan pengemis dan gelandangan. Namun memang untuk pembinaan kami masih banyak kekurangan, karna ini kaitannya dengan mental dan pandangan hidup” ujar bpk Lenon. Dari sini bisa di garis bawahi bahwa kalau ada pembinaan yang di lakukan oleh DINSOS kepada pengemis dengan memberikan pendampingan dan pelatihan keterampilan. sehingga ada keluarga pengemis yang kemudian memutuskan untuk bekerja secara mendiri dan di antara mereka tinggal di dekat TPA batu layang jalan Kebangkitan Nasional.

Berkenaan dengan gelandangan dan pengemis yang sering meminta sumbangan di masyarakat, lebih jauh, ada pula di tanyakan Dewi Mahasiswi IAIN Pontianak, sering kali pengemis dan gepeng mangkal di simpang jalan lampu merah atau di tempat umum lainnya apakah tidak ada penindakan dari DINSOS agar secara matematis terjadi pengurangan jumlah atau minimal masyarakat tidak memanjakan mereka dengan memberikan sumbangan. Dalam hal ini dari DINSOS sudah memberikan himbauan kepada masyarakat agar tidak memberikan sumbangan secara langsung kepada mereka. Himbauan ini di sosialisasikan melalui media dan spanduk-spanduk yang mengajak masyarakat agar memberikan infaq melalui tempat yang semestinya, seperti masjid, lembaga social dll.
 foto bersama dept. SOSMAS KAMDA Pontianak dengan Bidang Sosial DISOSNAKER

Dari Agenda Ini, Dinsos yang di wakili bu Fursiah juga meminta agar Ormas seperti KAMMI juga bisa turut andil melakukan pembinaan Masyarakat, baik itu bisa melalui program kerja sama dengan pemkot berkenaan pembinaan masyarakat, maupun masukkan dan diskusi program yang di canangkan agar bisa berkontribusi untuk kemajuan kota Pontianak.

Pukul 10.00 KAMMI memutuskan untuk pamit, walaupun masih banyak hal yang ingin didiskusikan, karna mengingat masih ada janji untuk agenda silaturahmi berikutnya ke Kantor DISDUKCAPIL. berkaitan dgn data/ informasi yang di dapat memang blm bisa mewakili realitas kota secara mutlak. karna walau bagaai manapun polemik sosial di tingkat kota masih terus mencuat dan menghiasi media setiap harinya. Acara di tutup dengan Foto bersama sekaligus penyerahan Cindera Mata berupa plakat yang di sampaikan kepada Ibu Fursiah. by.

gambar : Dewi Indrawati