Rabu, 12 November 2014

Diantara Cabang-cabang "Galau"



Bagi setiap mahasiswa yang sudah berada di semester atas namun belum bisa menyelesaikan tugas-tugas akademiknya. Tentu akan merasakan kegalauan, apakan lagi kalau kemudian di bebani dengan desakan oleh orang tua atau orang-orang terdekat yang tiap kali jumpa menanyakan prihal kuliah tersebut, maka beban itu akan berlipat-lipat. Dan mungkin saya di antara orang yang merasakannya. Galaunya tu di sini (sambil nunjuk Jidat...).
Usia sudah lebih dari 27 th, bilangan angka yang sudah layak buat menikah. Apa lagi sudah lewat 2 th dari targetan usia akan menikah. Sering jumpa teman-teman sekolah dulu, saling sapa, saling tanya kabar, kebanyakan dari mereka sudah punya pasangan dan bahkan sudah punya momongan. Tak jarang mereka tanya, ‘Bayu udah nikah ke?, Udah punye anak berape?, dapat Istri Orang mane?’dst.... saking terbiasanya sya dengar pertanyaan senada, rasanya udh bisa langsung jawab pertanyaan mereka sebelum di tanyakan... Namun saya bersyukur karna kebanyakan dari mereka bahagia dengan keluarga kecilnya. Mendapati  itu dalam hati saya berkata ‘kapan saya bisa Seperti mereka?’.
Mandiri. Kemandirian bagi saya saat ini tidak hanya dalam arti tidak tergantung dengan orang lain (orang-orang terdekat) secara sosial saja, atau dari segi finansial seperti yang kebanyakan orang sangka, namun lebih dari itu. Mandiri yang saya maksud adalah ketika Kita mempunyai Ide dan gagasan terkait grand design kehidupan kita.Apa yang akan di capai dalam jangka waktu beberapa tahun kedepan dalam hidup dan bagaimana memetakan langka-langka mencapai impian dengan kesadaran dan keyakinan atas potensi yang dimiliki. Sementara sejauh ini belum bisa membaca passion kita ada di mana. Ada masukan dari berbagai pihak untuk tawaran pekerjaan dll. Semuanya berkecemuk dalam benak saya. Membangun kesadaran untuk segera selesai kuliah dan masuk pada babak baru, babak di mana harus berkompetisi dengan banyak orang dalam melalui kehidupan ini.
Khoirunnas anfa’ahum linnaas, orang terbaik di antara kalian adalah mereka yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Hadis Rasulullah SAW ini, menyampaikan Indikator orang yang sukses hidup dunia akhirat ialah bagi mereka yang banyak mendatangkan manfaat bagi lingkungan sosialnya. Seseorang di tuntut tidak hanya baik secara personal, karna itu saja tidak cukup, tapi juga musti bermanfaat untuk orang lain. Orang kampung seperti saya, yang setelah lulusnya akan menyandang titel sarjana, tentu akan menjadi momok ketika tak dapat berkontribusi di masyarakat, apa lagi jika setelah selesai akan kembali ke kampung. Kontribusi di sini tentu kontribusi yang di berikan tidak seperti orang kebanyakan, tetapi harus lebih, harus memiliki nilai lebih, yang berefek pada manfaat yang lebih besar. Hal ini pula yang menjadi pemikiran saya. Mulai berfikir untuk hidup dengan cara seperti apa, apa akan kembali ke kapung? membangun kampung halaman?Bagaimana caranya? Di mulai dari mana? Apakah musti masuk sebagai aparatur Desa!Atau menjadi fasilitator pemuda desa!Menjadi pegawai kah? atau membuat usaha mandiri dengan memanfaatkan potensi daerahdll.
Dada ini terasa sempit ketika banyak hal yang dianggap masalah namun belum menemukan jalan pemecahan yang kongkrit. Begitupun sebaliknya, dada bisa pula terasa sempit ketika dirasa ada banyak impian yang belum terwujud namun belum bisa memetakan langkah-langkah dalam menggapainya. Mungkin tak dapat disamakan dengan keadaan rasul ketika mendakwahkan risalahnya kepada umat pada masa itu yang jahil. Beban berat yang membuat kepala memutih atau tulang punggung bengkok seperti akan patah karna memikul tanggung jawabnya. Tentu tidaklah seberat itu.
Khatam kuliah(pendidikan), kerja, menikah.Urutannya mungkin demikian. Baru setelahnya merumuskan sub-sub pokok dari 3 aspek di atas kedalam rangkaian program hidup yang musti di paparkan. Bismillah. Kalau bukan karna hidayah dari Allah tentu tak satupun hal yang dapat di selesaikan, terlebih mendapatkan Ridho Nya. Karna semakin waktu, terasa semakin banyak tantangan atau hal-hal yang hadir sebagai penggoda dan berat untuk menjadikan saya bisa lebih fokus.

Sabtu, 11 Januari 2014

DINSOSNAKER : 'Pontianak Tak Punya Anak Jalanan'. BENARKAH??!!

Silaturahim Part 1

Kantor DISOSNAKER Pontianak

Silaturahmi merupakan anjuran mulia yang di sampaikan oleh seorang yang mulia Nabi Allah Muhammad SAW. Demikianlah, sehingga sangat baik jika bisa di amalkan. Adapun manfaatnya adalah memperpanjang usia, memurahkan rejeki, dan masih banyak lagi manfaat yang lainnya.

Pagi kamis (9/1/2014) Departemen SOSMAS KAMDA Pontianak bersilaturahim ke Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Pontianak Dan Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil. Sekitar pukul 09.00 wib, ber enam, KAMI, Bayu, Ahmad, Agung, Eka, Estika dan Dewi tiba di DINSOSNAKER (Dinas Sosial Dan Tenaga Kerja), Disambut langsung oleh Ibu Fursani, M.Si selaku kepala bidang Sosial, di ruang kerjanya. Kemudian di ikuti oleh 2orang kepala seksi Di Bawah bidang social yang bertugas sebagai pengontrolan/evakuasi dan pembinaan. Walaupun tidak di sertai oleh kep. Kantor yang belum lama sebelum KAMMI tiba, pergi menghadiri suatu urusan, namun proses komunikasi dan sosialisasi berjalan dengan hikmat.

Secara umum Bidang Sosial Pemkot memiliki banyak PR, baik hal yang berkenaan dengan Ketertibn Masyarakat (penertipan gelandangan, Pengemis dll) Pembinaan Masyarakat, sampai kepada program Kesejahteraan masyarakat terutama program ekonomi yang di prioritaskan untuk maasyarakat miskin yang sifatnya turunan dari kementrian social Pusat maupun program yang di canangkan oleh Pemkot.

“untuk kota Pontianak kita tidak memiliki anak jalanan” ujar bu Fursani. lebih lanjut di sampaikan oleh Bpk Lenon “ yang di katakan anak jalanan adalah mereka yang hidup di jalan lebih dari 4 jam. Tidak ada rumah, tidak ada tempat tinggal dan tidak bersekolah, untuk Kota Pontianak tidak ada yang seperti ini”. Hemat kami, inilah salah satu hal yang mendasari Pontianak sebagai kota yang mendapatkan penghargaan sebagai kota layak anak, walaupun secara realitas dari segi sikap dan pola hidup anak dan remaja kota tidak luput dari penyimpangan dan kenakalan yang sering di beritakan oleh media.

Untuk permaslahan social yang berkenaan dengan perdagangan manusia, yang dalam hal ini rentan di alami oleh wanita (sebagai korbannya), ada juga di tanyakan Eka. mengingat KALBAR berbatasan langsung dengan Negara tetangga Malaysia “Untuk kejahatan Perdagangan Perempuan bagaimana bu? Sering di beritakan di Koran-koran mengenai korban ketidak adilan maupun asusila ketika menjadi TKI!”.
“Untuk kota Pontianak sendiri, sebenarnya sedikit sekali masyarakat yang menjadi korban, malahan hampir tidak ada untuk saat ini. dulu ada, ketika administrasi kependudukan mudah di palsukan atau di manipulasi. namun sekarang biasanya yang kita tangani adalah mereka yang dari daerah luar datang ke Pontianak kemudian menggunakan jasa dari pihak penyaluran tenaga kerja untuk di pekerjakan ke Malaysia. Mereka yang Ketika bekerja di sana mendapatkan masalah kemudian pulang ke Indonesia, dan terlunta di Pontianak. Jadi Pontianak hanya tempat transitnya, atau tempat mereka tinggal untuk sementara waktu karna tidak memiliki tujuan dan mengharapkan bantuan dari pemerintah. Terkait ketenaga kerjaan yang bermasalah secara social yaitu Adanya pihak-pihak tertentu menggunakan modus lain untuk mengelabui aparat agar bisa di kirim ke Malaysia atau sebaliknya dari Malaysia-Pontianak di kirim ke daerah lain seperti  Batam, itu ada. namun itu di luar wewenang kita” uajar bu Fursani.

Agung perwakilan SOSMAS STKIP : “Untuk masalah pembinaan, terutama bagi  Gepeng/ Gelandangan-Pengemis, apa saja yang sudah di lakukan, apakah mereka yang terjaring raziah, hanya di ingatkan, di catat secara administrasi, namun tidak mendapatkan pembinaan secara berkala”.
“em, sebenarnya kami sudah melakukan upaya pembinaan, berupa pelatihan kemandirian dll, tercatat pengurangan jumlah pengemis dari 90an menjadi 20 pengemis merupakan wujud dari kerja kami dalam upaya pengentasan pengemis dan gelandangan. Namun memang untuk pembinaan kami masih banyak kekurangan, karna ini kaitannya dengan mental dan pandangan hidup” ujar bpk Lenon. Dari sini bisa di garis bawahi bahwa kalau ada pembinaan yang di lakukan oleh DINSOS kepada pengemis dengan memberikan pendampingan dan pelatihan keterampilan. sehingga ada keluarga pengemis yang kemudian memutuskan untuk bekerja secara mendiri dan di antara mereka tinggal di dekat TPA batu layang jalan Kebangkitan Nasional.

Berkenaan dengan gelandangan dan pengemis yang sering meminta sumbangan di masyarakat, lebih jauh, ada pula di tanyakan Dewi Mahasiswi IAIN Pontianak, sering kali pengemis dan gepeng mangkal di simpang jalan lampu merah atau di tempat umum lainnya apakah tidak ada penindakan dari DINSOS agar secara matematis terjadi pengurangan jumlah atau minimal masyarakat tidak memanjakan mereka dengan memberikan sumbangan. Dalam hal ini dari DINSOS sudah memberikan himbauan kepada masyarakat agar tidak memberikan sumbangan secara langsung kepada mereka. Himbauan ini di sosialisasikan melalui media dan spanduk-spanduk yang mengajak masyarakat agar memberikan infaq melalui tempat yang semestinya, seperti masjid, lembaga social dll.
 foto bersama dept. SOSMAS KAMDA Pontianak dengan Bidang Sosial DISOSNAKER

Dari Agenda Ini, Dinsos yang di wakili bu Fursiah juga meminta agar Ormas seperti KAMMI juga bisa turut andil melakukan pembinaan Masyarakat, baik itu bisa melalui program kerja sama dengan pemkot berkenaan pembinaan masyarakat, maupun masukkan dan diskusi program yang di canangkan agar bisa berkontribusi untuk kemajuan kota Pontianak.

Pukul 10.00 KAMMI memutuskan untuk pamit, walaupun masih banyak hal yang ingin didiskusikan, karna mengingat masih ada janji untuk agenda silaturahmi berikutnya ke Kantor DISDUKCAPIL. berkaitan dgn data/ informasi yang di dapat memang blm bisa mewakili realitas kota secara mutlak. karna walau bagaai manapun polemik sosial di tingkat kota masih terus mencuat dan menghiasi media setiap harinya. Acara di tutup dengan Foto bersama sekaligus penyerahan Cindera Mata berupa plakat yang di sampaikan kepada Ibu Fursiah. by.

gambar : Dewi Indrawati

Minggu, 22 Desember 2013

Lombok itu 'manis'

Saya ingat November 2011 adalah kali pertama Kami  (Saya,Beben dan Rizal) menginjakkan kaki di bandara Internasional  Lombok, NTB. mewakili organisasi Mahasiswa DPM STKIP Pontianak. ada perhelatan nasional yang di adakan Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI), membahas tentang program2 apa saja yang akan di telurkan dalam pertemuan ini guna memperkuat bergeining position DPM di tingkat daerah wilayah hingga di kancah nasional.
Tuan rumah kegiatan ini adlah kampus Universitas Mataram (UNRAM), yang pada saat itu DPMnya di pimpin oleh Syahru Ramadhan. turun dari pesawat Kami berpapasan dengan mahasiswa dari UPI Bandung, Adit dan Dani yang juga menjadi peserta dalam perhelatan ini. di latari pesawat LION Air dan langit senja,ber 5 kami mengabadikan momentum tersebut dalam bidikan kamera yang di bawa Rizal.
Atap gedung bandara ciri khas design bumbungan rumah suku sasak ende

jujur, dalam agenda ini saya merasa belum memiliki wawasan yang mumpuni. karna memang untuk wilayah kalimantan barat, ini forum DPM pertama yang di ikuti kampus perwakilan dari Kalimantan Barat.  15 menit berselang setelah kami mengambil tas dan keluar dari gedung bandara. mobil jemputan dari panitia dalam kegiatan ini datang. dan ternyata ada 2 orang lagi bergabung bersama kami. satu mahasiswa semester akhir Universitas Padjajaran Rifki zulkarnaen, dan Pak de Kacong sapaan akrabnya utusan dri Universitas Brawijaya Malang. walau letih setelah 6 jam berada dalam perjalanan transit pontianak- jakarta, jakarta-lombok, tidak membuat Kami surut untuk saling sapa tukar kabar daerah masing-masing. 5 menit berada di mobil yang sama membuat kami serasa sudah lebih lama' kenal satu dengan yang lainnya...